
Sebuah Program dan Pendekatan dalam (K3) yang Berfokus pada Perilaku Individu sebagai Faktor Utama Penyebab Kecelakaan Kerja
Behaviour Based Safety (BBS)
Behaviour based safety (BBS) merupakan aplikasi sistematis dari riset psikologi tentang perilaku manusia pada masalah keselamatan (safety) di tempat kerja yang memasukkan proses umpan balik secara langsung dan tidak langsung. BBS lebih menekankan aspek perilaku manusia terhadap terjadinya kecelakaan di tempat kerja. Tujuan dari behaviour safety process adalah untuk mengurangi angka kecelakaan kerja yang dipicu karena perilaku unsafe atau perilaku beresiko. Untuk mencapai tujuan ini, pihak manajemen harus mengidentifikasi masalah perilaku yang spesifik dengan cara memfokuskan pada kecelakaan yang disebabkan karena interaksi antara pekerja dengan lingkungan kerjanya. Fokus tersebut melibatkan sistem manajemen, kualitas pemimpin, sumber daya yang ada (finansial dan non finansial), dan budaya safety.
Apabila masalahnya sudah teridentifikasi, maka dilakukan upaya untuk mengetahui hal apa yang menyebabkan perilaku beresiko tersebut dan konsekuensi apa yang bisa mempertahankan perilaku tersebut sehingga manajemen bisa memutuskan mengambil corrective action yang tepat (Cooper, 2009).
Untuk melakukan pendekatan dan mengubah perilaku unsafe menjadi perilaku safe dibutuhkan beberapa langkah yang merupakan kunci keberhasilan dari implementasi behaviour safety. Beberapa komponen dalam penerapan proses yang ideal adalah:
- Mengidentifikasi perilaku unsafe yang diperoleh melalui data kecelakaan di tempat kerja.
- Membuat checklist pengamatan yang sesuai untuk masing-masing jenis pekerjaan.
- Mengedukasi pekerja dengan cara memberi pelatihan yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja. Semua pekerja dilibatkan karena masing-masing akan menjadi pengamat perilaku bagi pekerja yang lain.
- Menilai perilaku safety dari pekerja secara berkelanjutan melalui proses pengamatan.
- Memberikan feedback mengenai perilaku keselamatan dan kesehatan kerja baik secara verbal, tertulis, maupun dalam bentuk grafis.
Desain proses untuk mengurangi angka kecelakaan melalui pendekatan BBS bisa bervariasi bergantung pada lingkungan dan dinamika pekerjaan pada tiap-tiap perusahaan. Sebagai contoh, proses merubah perilaku tentu berbeda bila diaplikasikan pada area kerja yang statis (misalnya pabrik manufaktur) dengan lingkungan kerja dan pekerjanya yang tetap dibandingkan dengan area kerja yang dinamis (misalnya konstruksi) dengan tempat kerja yang berpindah-pindah dan pekerja yang tidak tetap.
Lebih lanjut, Cooper (2009) mengidentifikasi adanya tujuh kriteria yang sangat penting bagi pelaksanaan program Behaviour Based Safety :
1. Melibatkan partisipasi karyawan yang bersangkutan
BBS menerapkan sistem bottom-up, sehingga individu yang berpengalaman dibidangnya terlibat langsung dalam mengidentifikasi perilaku kerja tidak aman (unsafe behavior). Dengan keterlibatan pekerja secara menyeluruh dan adanya komitmen, kepedulian seluruh pekerja terhadap program keselamatan maka proses perbaikan akan berjalan dengan baik.
2. Memusatkan perhatian pada unsafe behaviour yang spesifik
Untuk mengidentifikasi faktor di lingkungan kerja yang memicu terjadinya perilaku tidak selamat para praktisi menggunakan teknik behavioral analisis terapan dan memberi hadiah (reward) tertentu pada individu yang mengidentifikasi perilaku tidak selamat.
3. Didasarkan pada data hasil observasi
Observer memonitor perilaku selamat pada kelompok mereka dalam waktu tertentu. Makin banyak observasi makin reliabel data tersebut, dan safe behaviour akan meningkat.
4. Proses pembuatan keputusan berdasarkan data
Hasil observasi atas perilaku kerja dirangkum dalam data persentase jumlah safe behaviour. Berdasarkan data tersebut bisa dilihat letak hambatan yang dihadapi. Data ini menjadi umpan balik yang bisa menjadi reinforcement positif bagi karyawan yang telah berperilaku kerja aman, selain itu bisa juga menjadi dasar untuk mengoreksi unsafe behaviour yang sulit dihilangkan.
5. Melibatkan intervensi secara sistematis dan observasional
Keunikan sistem BBS adalah adanya jadwal intervensi yang terencana. Dimulai dengan briefing pada seluruh departemen atau lingkungan kerja yang dilibatkan, untuk menentukan karyawan yang bersedia menjadi relawan yang bertugas sebagai observer. Observer ditraining agar dapat menjalankan tugasnya, kemudian mengidentifikasi unsafe behavior yang diletakkan dalam check list. Daftar ini ditunjukkan pada para pekerja untuk mendapat persetujuan. Setelah disetujui, observer melakukan observasi pada periode waktu tertentu. Setelah itu barulah program intervensi dilakukan dengan menentukan goal setting yang dilakukan oleh karyawan sendiri. Observer terus melakukan observasi. Data hasil observasi kemudian dianalisis untuk mendapatkan feedback bagi para karyawan.
6. Menitikberatkan pada umpan balik terhadap perilaku kerja
Dalam program BBS, umpan balik dapat berbentuk umpan balik verbal yang langsung diberikan pada karyawan sewaktu observasi, dalam bentuk data (grafik) yang ditempatkan dalam tempat-tempat yang strategis dalam lingkungan kerja, dan berupa briefing dalam periode tertentu dimana data hasil observasi dianalis untuk mendapatkan umpan balik yang mendetail tantang perilaku yang spesifik.
7. Membutuhkan dukungan dari manager
Komitmen manajemen terhadap proses BBS biasanya ditunjukkan dengan memberi keleluasaan pada observer dalam menjalankan tugasnya, memberikan penghargaan yang melakukan perilaku selamat, menyediakan sarana dan bantuan bagi tindakan yang harus segera dilakukan, membantu menyusun dan menjalankan umpan balik, dan meningkatkan inisiatif untuk bertindak selamat dalam setiap kesempatan.
BBS tidak berhenti pada observasi & feedback tetapi continual improvement yg lebih penting. Hasil review terhadap observsi & feedback diharapakan memberi input kepada lingkungan dan pekerja baik dari sisi pengembangan defence maupun awareness nya.
Penerapan BBS
Perusahaan minyak dan gas lepas pantai merupakan pihak yang membuat meningkatnya penggunaan program modifikasi perilaku, yang dirancang untuk meningkatkan keselamatan dengan memodifikasi perilaku pekerja. Laporan keberhasilan program ini bervariasi, mulai dari pengurangan tingkat kecelakaan secara drastis atau malah tidak ada perubahan sama sekali, dan/atau kekecewaan pekerja. Untuk mengatasi masalah ini, empat studi kasus yang dipaparkan untuk memberikan informasi tentang berbagai program yang saat ini sedang digunakan, mengidentifikasi hambatan dan kemungkinan yang terkait dengan program modifikasi perilaku ini. Keempat program adalah Time Out for safety (TOFS), Advanced Safety Auditing (ASA), STOP dan Care Plus.
Keempat program modifikasi perilaku tersebut dipilih untuk mewakilkan luasnya jangkauan dari program modifikasi perilaku yang digunakan oleh industri lepas pantai. Kategori modifikasi perilaku terlihat dalam tabel berikut ini.
| Promosi perilaku single | Time Out For Safety (TOFS) |
| Intervensi dengan target pada manajemen | Advanced Safety Auditing (ASA) |
| Program berbasis observasi | STOP |
| Program modifikasi perilaku penuh | Care Plus |
- Time Out For Safety (TOFS) BP Amoco’s Andrew platform
TOFS dikembangkan oleh kru pengeboran pada BP Amoco’s Andrew platform, sebagai respon untuk beberapa tantangan yang mereka hadapi. Seiring waktu itu telah diadopsi oleh seluruh platform, dan baru-baru ini juga diadopsi oleh instalasi lainnya. TOFS efektif karena dirancang untuk memodifikasi perilaku penting karyawan garis depan, yaitu menghentikan pekerjaan jika mereka memiliki masalah keselamatan. Hal ini juga bertujuan untuk mendorong karyawan untuk merasa lebih memiliki keselamatan mereka sendiri dan keselamatan orang lain. Teknik yang diperlukan sangat sederhana yaitu dengan membuat tanda “T” dengan tangan mereka yang berarti “sinyal TOFS” untuk menghentikan proses operasi jika seorang pekerja memiliki masalah keselamatan. Hal ini sederhana, karena tidak memerlukan karyawan untuk mengisi formulir, yang juga mengurangi kecemasan tentang rekan lain yang ditegur atas tindakan pengamatan mereka. Sinyal ini juga sangat bermanfaat di lingkungan bising yang menyulitkan mendengar pekerja lain.
Keberhasilan pengenalan TOFS pada platform Andrew salah satunya adalah karena budaya keselamatan positif sudah ada pada saat TOFS diperkenalkan.
2. Advanced Safety Auditing (ASA) BP Amoco’s Miller platform
Teknik ASA didesain untuk meningkatkan kemampuan line manager dan supervisor untuk mengikutsertakan interaksi positif dengan pekerja mengenai keselamatan, mengenali dan mendorong safe behaviour, dan mengindentifikasi dan memperoleh komitmen dari line manajer dan supervisor untuk memperlihatkan kepemimpinan yang berkeselamatan.
ASA diperkenalnya pertama kali di industri tambang batubara di UK. Tiga prinsip utama ASA yaitu observasi akurat, komunikasi dua arah yang efektif dan penetapan sasaran individual. Pelatihan ASA menegaskan bahwa jika masalah keselamatan mengalami konflik dengan prioritas lainnya, maka keselamatan tetap merupakan hal utama. Audit dilakukan dengan melakukan pengamatan berfokus pada perilaku orang lain, kemudian dilakukan wawancara dimana pihak yang diwawancara/auditee diberikan 75% waktu untuk berbicara dibanding keseluruhan proses wawancara yang bertujuan untuk membuat auditee mengenali setiap bahaya dan unsafe bahavior, serta merumuskan solusi. Elemen penting berikutnya yaitu memperoleh komitmen auditee untuk bagaimana bekerja secara selamat di masa depan dan mengkonfirmasi tindakan tersebut kepada auditor.
Dampak perilaku utama dari ASA adalah keberhasilannya mengubah perilaku manajemen dan supervisor, dengan memberikan mereka alat/tool yang sederhana untuk terlibat dalam pembicaraan yang membangun, tanpa ada unsur ancaman dengan pekerja mereka terkait safe dan unsafe behaviour, dan aspek keselamatan yang lebih luas. Interaksi positif dan perolehan komitmen ini dipercaya dapat meningkatkan kesadaran akan keselamatan,
3. Safety Training Observation Programme (STOP Programme)
Pada awal 1990, Conoco mengenalkan program STOP pada sejumlah platform produksi minyak mereka bagian selatan North Sea . STOP didesain untuk mendorong observasi dan pembicaraan terkait keselamatan di lokasi kerja dan melakukan indentifikasi dan perbaikan tren perilaku dan kondisi kerja yang tidak berkeselamatan. Pelatihan dan supervisor-led coaching digunakan untuk mengenalkan kepada karyawan pada lima langkah “STOP safety observation cycle”, yang meliputi :
- Decide – memutuskan untuk melakukan observasi.
- Stop – menghentikan atau menunda pekerjaan lain, untuk memberikan waktu pada observasi.
- Observe – melakukan pengamatan pada orang-orang di tempat kerja, dan kondisi kerja untuk mengidentifikasi perilaku dan kondisi yang tidak berkeselamatan.
- Act – bertindak selama observasi, misalnya berbicara kepada sejawat tentang bagaimana bekerja dengan selamat atau tidak selamat, dan memberikan dukungan atau tindakan perbaikan yang diperlukan.
- Report – melaporkan hasil observasi dan tindakan perbaikan dengan menggunakan kartu STOP seukuran saku, yang kemudian dipegang oleh supervisor untuk direview, diperiksa dan diberikan tindakan lain yang diperlukan. Kartu akan ditandai oleh observer/pengamat. Namun demikian prinsip penting dalam STOP adalah bahwa orang yang diamati tetap anonim.
Selama tiga tahun berjalan, timbal balik program ini menjadi stagnan. Sejumlah kesulitan ditemukan antara lain bahwa program ini menggunakan gaya top-down, pekerja harus melengkapi 2 kartu STOP per setiap perjalanan offshore yang mendorong rendahnya kualitas kartu bahkan cenderung direkayasa. Meskipun saat pertama kali diluncurkan para pekerja memiliki persepsi bahwa program ini sangat baik, namun materi pelatihan dirasa sangat sederhana. Hal lain yang disadari yaitu bahwa keterlibatan manajemen dan supervisor selama tur STOP cenderung kurang.
Untuk mengatasi masalah tersebut, direncanakan akan dilakukan relaunching STOP. Terdapat dua elemen dalam progam relaunching ini yaitu yang pertama, mempekerjakan konsultan perilaku untuk mendesain dan menyajikan pelatihan sehari tentang “STOP for Leadership” bagi 120 Conoco manajer, supervisor dan staf unit safety, dan kedua, menyelenggarakan pelatihan level dasar “Introduction to STOP” bagi seluruh pekerja baru yang disampaikan oleh supervisor sekaligus memberikan panduan untuk pelaksanaan tur STOP.
Dari peluncuran dan peluncuran kembali program ini, dapat diambil pelajaran bahwa jika program perilaku keselamatan dikenalkan dengan gaya top-down, dengan melakukan kecenderungan pemaksaan bagi pekerja dalam observasi, hal ini akan menyebabkan resistensi dari pekerja. Conoco dapat mengambil pelajaran bahwa interaksi positif dari manajer dan supervisor dalam mempromosikan keselamatan lebih bermanfaat daripada intervensi manajemen dan supervisor yang cenderung dianggap negatif oleh pekerja.
4. Care Plus – Shell’s Cormorant Alpha platform
Care Plus merupakan proses keselamatan yang dipimpin oleh karyawan/employee-led safety process yang bertujuan memperbaiki perilaku keselamatan pekerja. Staf Commorant Alpha menjelaskan Care Plus sebagai sistem intervensi perilaku yang dimiliki dan dijalankan oleh tenaga kerja. Yang memberikan intervensi pada seluruh perilaku meliputi observasi sesama karyawan, feedback tatap muka, penetapan sasaran dan target oleh pekerja dan presentasi grafik performa yang dibandingkan dengan target.
Program Care Plus difokuskan pada perilaku tetapi kondisi unsafe dapat dimasukkan jika berkontribusi pada timbulnya unsafe behaviour. Observasi dilakukan berdasarkan prinsip “no name no blame”. Checklist observasi dibagi manjadi dua kategori bagi observer untuk menandai safe dan unsafe behaviour. Timbal balik dari observer langsung diberikan secara tatap muka pada orang yang diobsevasi, difokuskan pada hal yang positif terlebih dahulu baru kemudian membahas apakah orang tersebut menyadari tentang perilakunya yang tidak selamat dan mendorong untuk lebih baik dalam berperilaku di masa depan.
Sejak dikenalkan pada Januari 1999 telah terjadi pengurangan kasus cedera, terutama kasus cedera ringan. Keterlibatan pekerja menjadi salah satu kunci keberhasilan program ini. Namun demikian hal lain yang sangat penting untuk tipe intervensi ini adalah komitmen manajemen, kepercayaan di antara sesama staf dan pekerja yang peduli keselamatan, serta kesediaan untuk menyadari bahwa keselamatan adalah milik setiap orang.
Tabel berikut ini menggambarkan perbandingan hasil pengamatan keempat program di atas.
| FITUR | TOFS | ASA | STOP | Care Plus |
| Ownership | Dikembangkan oleh kru drilling, diterapkan oleh seluruh pekerja karena keberhasilannya. | Diinisiasi dan dijalankan oleh manajemen secara top-down. Diperluas dengan melibatkan staf platform inti. | Diinisiasi dan dijalankan oleh manajemen secara top-down. Diluncurkan ulang untuk dapat diterima staf platform inti. | Staf garis depan dilibatkan sejak awal. Ketika disetujui oleh senior manajemen, kepemilikan, pengembangan dan proses implementasi dijalankan oleh pekerja garis depan. |
| Definisi safe/unsafe behaviour | Tidak dijelaskan | Tidak dijelaskan | Menjelaskan kategori safe/unsafe behaviour. Bersifat umum dan tidak ditujukan untuk lingkungan offshore. | Dijelaskan oleh kelompok pengarah berdasarkan penilaian ahli dan analisa kecelakaan terdahulu. |
| Pelatihan | Kru drilling memberikan presentasi kepada seluruh pekerja dan supervisor memberikan 30-40 menit presentasi kepada tim mereka. | Training of trainer selama 5 hari. Satu atau satu setengah hari pelatihan onshore atau offshore. | Pelatihan satu hari untuk manajer dan supervisor. Pekerja lain mendapatkan instruksi regular dan pelatihan dari supervisor, didukung dengan materi pelatihan. | Pelatihan dua hari dan empat kali dua jam sesi bagi observer untuk pelatihan di offshore. |
| Observasi | Memungkinkan pekerja untuk bertindak berdasarkan pengamatan mereka sendiri sehingga mendorong mereka melakukan observasi sendiri. | Prinsipnya berfokus pada safe dan unsafe behaviour. | Prinsipnya berfokus pada safe dan unsafe behaviour dan kondisi kerja yang tidak berkeselamatan. | Fokusnya pada safe dan unsafe behaviour yang dibedakan dalam checklist observasi. |
| Penetapan baseline performance | Tidak dilakukan | Tidak dilakukan | Tidak dilakukan | Ditetapkan 3 bulan sebelum program diluncurkan. |
| Feedback | Tatap muka langsung, segera, secara verbal saat seseorang menyatakan TOFS. | Tatap muka langsung, segera, secara verbal selama dilakukan audit. | Tatap muka langsung, segera, secara verbal pada saat observasi. Kesimpulan tren bulanan. | Tatap muka langsung, segera, secara verbal pada saat observasi dan presentasi grafik perbadingan antara performa dan target. |
| Reinforcement | Ucapan terima kasih, dorongan, pujian. Kadang dengan pemberian hadiah saat seseorang menyatakan TOFS yang mencegah terjadi kecelakaan. | Untuk safe behaviour : ucapan terima kasih, dorongan, pujian. Untuk unsafe behaviour : pelatihan dan komitmen untuk mengubah perilaku. | Untuk safe behaviour : ucapan terima kasih, dorongan, pujian. Untuk unsafe behaviour : pelatihan dari sejawat atau supervisor. | Untuk safe behaviour : dorongan, pujian. Untuk unsafe behaviour : identifikasi konsekuensi potensial. |
| Goal-setting dan Review | Tidak ada target untuk jumlah TOFS dan tidak terdokumentasi. Sangat penting membuat pekerja tidak meresa mereka dilaporkan oleh sesama pekerja lainnya. | Ketika diperlukan, auditee didorong untuk berkomitmen pada perubahan perilaku, kemudian diikuti dengan implementasi. | Jika tren menunjukkan data STOP, dapat ditetapkan sasaran perbaikan atau dapat dilakukan kampanye. Kartu STOP direview secara regular. Program direview setiap dua tahun. | Target ditetapkan oleh tenaga kerja setiap tiga bulan dan didasarkan pada performa mereka pada empat bulan sebelumnya. |
- Cooper, M. D. (2009). Behavioural Safety Interventions: A Review of Process Design Factors. Safety Management, 36-45.
- Flemming M. And Lardner R. (1999). Behaviour Modification to Improve Safety, a review of the literature, HSE Books Suffolk.
- Flemming M. And Lardner R. (2001). Behaviour Modification Programmes Establishing Best Practice, HSE Books.
- Geller, E.S. (2001). The Psychology of Safety Handbook. USA: CRC Press LLC, 2001.
- Geller, E.S. (2005). Bahavior-Based Safety and Occupational Risk Management. Behaviour Modification, 29 (3), 539-561, Sage Publication.
- Notoatmodjo. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Rineka Cipta.: Jakarta
- http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/aa/Behaviour-based_Safety.gif
